Rabu, 07 Juli 2010

KEPRIBADIAN

KEPRIBADIAN
A. Pengertian Kepribadian
Kepribadian atau “personality” merupakan sifat dan tingkah laku yang membedakannya dengan orang lain. Kepribadian seseorang dibentuk dan terbentuk oleh factor internal dan eksternal. G. W All Port (1897), mengemukakan bahwa, “personality is the dynamic organization within the individual those psychological system that determine his unique adjustment to his environment” . (Kepribadian adalah organisasi dinamis yang ada pada seseorang di dalam suatu system psikopisik yang menentukan keunikan atau corak yang khas dalam caranya menyesuaikan diri dengan lingkungannya).
• Organisasi dinamis maksudnya kepribadian itu selalu aktif bergerak/berubah sebagai suatu organisasi jiwa dan organisasi fisik dalam diri individu.
• System psikopisik maksudnya adalah bahwa perubahan tersebut adalah system jiwa.
• Corak yang khas maksudnya bahwa kepribadian menentukan keunikan penyesuaian diri individu terhadap lingkungan.
Kepribadian adalah semua corak perilaku dan kebiasaan individu yang terhimpun dalam dirinya dan digunakan untuk bereaksi serta menyesuaikan diri terhadap segala rangsangan baik dari luar maupun dari dalam. Corak perilaku dan kebiasaan ini merupakan kesatuan fungsional yang khas pada seseorang. Perkembangan kepribadian tersebut bersifat dinamis, artinya selama individu masih bertambah pengetahuannya dan mau belajar serta menambah pengalaman dan keterampilan, mereka akan semakin matang dan mantap kepribadiannya (Depkes, 1992).
B. PENDEKATAN AWAL DALAM MEMAHAMI KEPRIBADIAN
1. Pendekatan Pra-Ilmiah

Usaha-usaha untuk menyusun teori maupun konsep yang utuh dalam rangka menjelaskan perilaku manusia sudah sejak lama dilakukan orang. Usaha ini secara terus menerus dilakukan dan diperbaiki secara bertahap karena disadari pentingnya teori dan konsep yang utuh tentang perilaku manusia untuk kepentingan kehidupan manusia itu sendiri.
Hasil dari usaha-usaha penyusunan teori maupun konsep ini ada yang nilai ilmiahnya masih jauh dari memadai dan karenanya dapat disebut dengan usaha-usaha yang masih bersifat pra-ilmiah, usaha-usaha yang bersifat pra-ilmiah merupakan usaha-usaha dalam memahami tingkah laku manusia yang belum dilandasi oleh upaya-upaya pembuktian yang dapat dipercaya. Pemahaman tingkah laku melalui cara-cara ini hanya berdasarkan keyakinan dan kepercayaan yang muncul dari pengalaman yang dialami.

a. Chirologi atau ilmu gurat-gurat tangan (Jawa:rajah)
Dasar pikiran daripada pengetahuan ini ialah kenyataan bahwa gurat-gurat tangan orang itu tidak ada yang sama satu sama lain, macamnya adalah sebanyak orangnya. Jika sekiranya orang dapat mengenal perbedaan-perbedaan serta sifat-sifat khusus gurat-gurat tangan tersebut, maka dia akan mengenal perbedaan-perbedaan serta sifat-sifat khas orangnya. Akan tetapi usaha yang biasa dilakukan orang tidaklah sejauh itu; orang hanya memperhatikan beberapa gurat (garis) saja.
b. Astrologi atau ilmu perbintangan
Dasar pikiran daripada pengetahuan ini ialah adanya pengaruh kosmis terhadap manusia. Pada waktu seseorang dilahirkan, dia ada dalam posisi tertentu terhadap benda-benda angkasa; jika sekiranya kita dapat mengenal perbedaan-perbedaan mengenai soal ini dia juga akan dapat mengenal perbedaan-perbedaan serta sifat-sifat khas orangnya; tapi biasanya usaha yang dilakukan orang tidak sejauh itu, dan orang-orang yang lebih kemudian secara tradisional meniru saja yang dikatakan oleh orang sebelumnya, padahal reliabilitas dan vaiditas prinsip-prinsip yang telah ada belum diuji.
c. Grafologi atau ilmu tentang tulisan tangan
Dasar pikiran grafologi itu ialah demikian segala gerakan yang dilakukan oleh manusia itu merupakan ekspresi daripada kehidupan jiwanya; jadi juga gerakan menulis-dan selanjutnya tulisan sebagai hasil gerakan menulis itu-merupakan bentuk ekspresi kehidupan jiwa. Kalau sekiranya orang dapat mengetahui keadaan khusus tulisan seseorang dengan baik, berarti ia juga dapat mengenal keadaan khusus kepribadian si penulisnya.

d. Physiognomi atau ilmu tentang wajah
Pengetahuan ini berusaha memahami kepribadian atas dasar keadaan wajahnya. Dasar pikiran untuk mengusahakan pengetahuan ini ialah keyakinan bahwa ada hubungan antara keadaan wajah dan kepribadian. Hal-hal yang tampak pada wajah dapat dipergunakan untuk membuat interpretasi mengenai apa yang terkandung dalam jiwa.
Physiognomische fragmente zur beforderung der menchenkenntniss und menschenliebe. Dalam buku tersebut dia menerangkan antara lain:
• Keadaan dahi dan kening adalah petunjuk untuk mengerti kecerdasan seseorang
• Hidung dan pipi adalah bagian yang dapat memberikan tanda mengenai halus atau kasarnya perasaan seseorang
• Mulut dan dagu dapat memberikan petunjuk tentang nafsu makan, nafsu minum, dan sebagainya
• Mata adalah bagian yang mencerminkan seluruh kehidupan jiwa, dan sebagainya.
e. Phrenologi atau ilmu tentang tengkorak
Pengetahuan ini bermaksud memahami kepribadian atas dasar keadaan tengkoraknya. Dasar pikiran ajaran mereka itu ialah bahwa tiap-tiap fungsi atau kecakapan itu masing-masing mempunyai pusatnya di otak. Jikalau salah satu dari kecakapan itu keadaannya luar biasa, maka pusatnya di otak itupun luar biasa besarnya. Akibat hal ini ialah bentuk tengkorak lalu terubah oleh pusat yang membesar tersebut, sehingga ada tonjolan-tonjolannya. Dengan mengukur secara teliti tonjolan-tonjolan tersebut, dapat ditarik kesimpulan tentang kecakapan-kecakapan atau sifat-sifat orangnya.

f. Onychologi atau ilmu tentang kuku
Onychologi berusaha memahami kepribadian seseorang atas dasar kuku-kukunya. Kuku di ujung jari itu mempunyai hubungan yang erat dengan susunan syaraf, dengan cabang-cabangnya yang terhalus berujung di pucuk-pucuk jari. Warna serta bentuk kuku dapat dipakai sebagai landasan untuk mengenal kepribadian orangnya.

C. TIPOLOGI
Tipologi adalah pengetahuan yang berusaha menggolongkan manusia menjadi tipe-tipe tertentu atas dasar factor-faktor tertentu, misalnya karakteristik fisik, psikis, pengaruh dominan nilai-nilai budaya, dan lain-lain. Macam-macam tipologi:
1. Tipologi Konstitusi Fisik
a. Tipologi Hippocrates-Galenus
Ajaran tentang cairan badaniah ini, kemudian menjadi sangat terkenal dan sangat besar pengaruhnya terhadap ahli-ahli yang lebih kemudian dirumuskan oleh Hippocrates dan selanjutnya disempurnakan oleh Galenus
• Pendapat Hippocrates
Hippocrates membahas kepribadian manusia dari titik tolak konstitusional. Terpengaruh oleh kosmologi Empedokles, yang menganggap alam semesta dan isinya ini tersusun dari 4 unsur dasar, yaitu: tanah, air, udara dan api. Dengan sifat-sifat yang didukungnya itu kering, basah, dingin, dan panas, maka Hippocrates berpendapat bahwa dalam diri seseorang terdapat 4 macam sifat tersebut yang didukung oleh keadaan konstitusional yang berupa cairan-cairan yang adal dalam tubuh orang itu, yaitu:
 Sifat kering terdapat dalam Chole (empedu kuning)
 Sifat basah terdapat dalam Melanchole (empedu hitam)
 Sifat dingin terdapat dalam Phlegma (lender)
 Sifat panas terdapat dalam Sanguis (darah)
Keempat cairan tersebut ada dalam tubuh dalam proporsi tertentu, apabila cairan-cairan tersebut dalam tubuh selaras (normal), orangnya normal (sehat), apabila keselarasan proporsi tersebut terganggu, maka orangnya menyimpang dari keadaan normal (sakit)
• Pendapat Galenus
Galenus menyempurnakan ajaran Hippocrates dan membeda-medakan kepribadian manusia atas dasar keadaan proporsi campuran cairan-cairan tersebut. Galenus sependapat dengan Hippocrates bahwa dalam manusia terdapat 4 macam cairan, yaitu:
 Chole (Koleris)
Ciri-cirinya adalah; cenderung berorientasi pada pekerjaan dan tugas, mempunyai disiplin kerja yang sangat tinggi, mampu melaksanakan tugas dengan setia dan bertanggung jawab terhadap tugas yang diembannya. Kelemahan tipe ini adalah kurang mampu merasakan perasaan orang lain, kurang mampu merasakan kasihan pada orang yang menderita dan perasaannya kurang bermain. Kelompok ini perlu ditingkatkan kepekaan sosialnya melalui pengembangan emosional yang seimbang dengan moral kognitifnya, sehingga menjadi lebih peka terhadap orang lain.
 Melanchole (Melankolis)
Memiliki ciri antara lain; terobsesi pada karyanya yang paling bagus atau paling sempurna, mengerti estetika keindahan hidup, perasaannya sangat kuat dan sangat sensitive. Kelemahannya; sangat mudah dikuasai oleh perasaan dan cenderung yang mendasari hidupnya sehari-hari adalah perasaan yang murung, oleh karena itu orang yang bertipe ini tidak mudah untuk senang atau tertawa terbahak-bahak.
 Phlegma (Plegmatis)
Memiliki ciri-ciri antara lain; cenderung tenang, gejala emosinya tidak tampak, misalnya dalam kondisi sedih atau senang sehingga turun naik emosinya tidak jelas. Orang dengan tipe ini cenderung dapat menguasai diri dengan baik dan lebih introspektif memikirkan kedalam dan mampu melihat, menatap dan memikirkan masalah-masalah yang terjadi disekitarnya. Mereka seorang pengamat yang kuat, penonton yang tajam dan pengeritik yang berbobot. Tipe ini memiliki kelemahan; ada kecendrungan untuk tidak mau bersusah payah.
 Sanguis (Sanguin)
Orang yang memiliki tipe ini memiliki ciri-ciri antara lain; memiliki banyak kekuatan, bersemangat, mempunyai gairah hidup, dapat membuat lingkungannya gembira dan senang. Tipe ini memiliki kelemahan antara lain; cenderung impulsif, bertindak sesuai emosinya atau keinginannya. Orang bertipe ini mudah dipengaruhi oleh lingkungannya dan ransangan dari luar diri, kurang bisa menguasai diri atau penguasaan diri lemah dan cenderung mudah jatuh dalam percobaan karena pengaruh dari luar mudah memikatnya. Jadi, orang dengan kepribadian sanguine sangat mudah dipengaruhi oleh lingkungannya dan ransangan luar dan kurang bisa menguasai diri.

Kalau satu cairan dalam tubuh itu melebihi proporsi yang seharusnya (jadi dominan) maka akan mengakibatkan adanya sifat-sifat kejiwaan yang khas. Sifat-sifat kejiwaan yang khas ada pada seseorang akibat daripada dominannya salah satu cairan badaniah oleh Galenius disebutnya tempramen. Jadi dengan dasar pikiran yang telah dikemukakan itu galenius kepada penggolongan manusia menjadi 4 tipe tempramen beralas pada dominasi salah satu cairan badaniahnya.

b. Tipologi Viola
Viola, seorang ahli dari Italia, mengemukakan tipologi yang didasarkan pada bentuk tubuh sebagaimana telah dilakuakn penelitian oleh De Giovani. Atas dasar aspek tersebut Viola mengemukakan tiga golongan atau tipe bentuk tubuh manusia (Sumadi Suryabrata, 2005:18), yaitu :
1. Tipe Microsplanchnis, yaitu bentuk tubuh yang ukuran menegaknya lebih dari pada perbandingan biasa, sehingga yang bersangkutan kelihatan jangkung.
2. Tipe Macrosplanchnis, yaitu bentuk tubuh yang ukuran mendatarnya lebih dari pada perbandingan biasa, sehingga yang bersangkutan kelihatan pendek.
3. Tipe Normosplanchnis, yaitu bentuk tubuh yang ukuran menegak dan mendatarnya selaras, sehingga tubuh kelihatan selaras pula.
c. Tipologi Sigaud
Sigaud, seorang ahli psikologi dari Perancis, menyusun tipologi manusia berdasarkan 4 macam fungsi tubuh, yaitu : motorik, pernafasan, penecernaan, dan susunan saraf sentral. Dominasi salah satu fungsi tubuhtersebut menentukan tipe kepribadian. Atas dasar pandangan di ataskemudian Sigaud menggolongkan manusia menjadi 4 tipe, yaitu :
1. Tipe muskuler
Tipe ini dimiliki oleh orang fungsi motoriknya paling menonjol dibanding fungsi tubuh yang lain, dengan cirri khas : tubuh kokoh, otot-otot berkembangan dengan baik, dan organ-oragan tubuh berkembang secara selaras.
2. Tipe respiratoris
Tipe ini ada pada orang yang memiliki fungsi pernafasan yang kuatdengan cirri-ciri : muka lebar serta thorax dan leher besar.
3. Tipe digestif
Tipe digestif terdapat pada orang yang memiliki fungsi pencernaan yang kuat dengan cirri-ciri : mata kecil, thorax pendek dan besar, rahang serta pinggang besar.
4. Tipe cerebral
Tipe keempat dari tipologi Sigaud ada pada orang yang memiliki susunan saraf sentral yang kuat disbanding fungsi tubuh lainnya dengan cirri-ciri : dahi menonjol ke depan dengan rambut ditengah, mata bersinar, daun telinga lebar, serta kaki dan tangan kecil.
d. Tipologi Sheldon
Sheldon berpendapat bahwa ada tiga komponen jasmaniah yang mempengaruhi bentuk tubuh manusia, yaitu : endomorphy, mesimorphy, dan ectomorphy. Istilah-istilah tersebut oleh Sheldon dikembangkan dari istilah yang berhubungan dengan terbentuknya foetus manusia, lapisan endoderm, mesoderm, dan ectoderm. Menurut Sheldon dominasi dari dari salah satu lapisan tersebut akan menyebabkan kekhasan terhadap bentuk tubuh. Dengan demikian maka ada 3 tipe manusia berdasarkan bentuk tubuhnya, yaitu :
1) Tipe endomorph,
Tipe endomorph merupakan tipe yang disebabkan oleh dominannya komponen endomorphy terhadap dua komponen lainnya, ditandai oleh : alat-alat dalam dan seluruh sistem digestif memegang peran penting. Bentuk tubuh tipe ini kelihatan lembut, gemuk, berat badan relatif rendah.
2) Tipe mesomorph
Tipe mesomorph terbentuk oleh karena komponen mesomorphy yang lebih dominan dari koponen lainnya, maka bagian-bagian tubuh yang berasal dari mesoderm relatif berkembang lebih baik, yang ditandai dengan otot-otot, pembuluh darah, dan jantung dominan. Bentuk tubuh tipe mesomorph kelihatan kokok dan keras.
3) Tipe ectomorph
Pada tipe ini organ-organ yang berasal dari ectoderm (kulit dan sistem syaraf) yang terutama berkembang. Bntuk tubuh tipe ectomorph terlihat jangkung, dada kecil dan pipih, lemah, dan otot-otot tidak berkembang.

2. Tipologi Tempramen
Tipologi temperamen merupakan tipologi yang disusun berdasarkan karakteristik segi kejiwaan. Dasar pemikiran yang dipakai para tokoh yang mengembangkan tipologi temperamen adalah bahwa berbagai aspek kejiwaan seseorang seperti : emosi, daya pikir, kemauan, dst. Menentukan karakteristik yang bersangkutan. Yang tergolong tipologi jenis ini antara lain : tipologi Plato, tipologi Immanual Kant, tipologi Bhsen, Tipologi Heymans, dst.
a. Tipologi Plato
Menurut Plato kemampuan jiwa manusia terdiri dari 3 macam, yaitu pikiran, kemauan,dan hasrat. Dominasi salah satu kemampuan inilah yang menyebabkan kekhasan pada diri manusia. Atas dasar hal ini Plato menggolongan manusia ke dalam 3 tipe yaitu sebagai berikut.
1) Tipe manusia yang terutama dikuasai oleh pikirannya, yang sesuai untuk menjadi pemimpin dalam pemerintahan.
2) Tipe manusia yang terutama dikuasai oleh kemauannya, sesuai untuk menjadi tentara.
3) Tipe manusia yang dikuasai oleh hasratnya, cocok menjadi pekerja tangan.
b. Tipologi Heymans
Heymans menyatakan bahwa manusia memiliki tipe kepribadian yang bermacam-macam, namun dapat digolongkam menjadi delapan tipe atas dasar kualitas kejiwaannya, yaitu :
(1) emosionalitas, mudah tidaknya perasaan terpengaruh oleh kesankesan;
(2) proses pengiring, yaitu kuat lemahnya kesan-kesan adadalam kesadaran setelah faktor yang menimbulkan kesan-kesan tersebut tidak ada.
(3) aktivitas, adalah banyak sedikitnya peristiwa-peristiwa kejiwaan menjelma menjadi tindakan nyata.
Masing-masing kualitas kejiwaan tersebut secara teoritis dibedakan menjadi dua macam, kuat dan lemah.

3. Tipologi Kebudayaan
Tipologi berdasarkan nilai-nilai kebudayaan dikembangkan oleh Eduard Spranger. Spranger menyatakan bahwa kebudayaan (culture) merupakan sistem nilai, karena kebudayaan itu tidak lain adalah kumpulan nilai-nilai budaya yang tersusun atau diatur menurut struktur tertentu. Kebudayaan sebagai sistem nilai oleh Spranger di golongkan menjadi 6 bidang yang secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua kelopok, yaitu :
1) Bidang-bidang yang berhubungan dengan manusia sebagai individu, yang didalamnya terdapat 4 nilai budaya :
a) Pengetahuan
b) Ekonomi
c) Kesenian
d) keagamaan
2) Bidang-bidang yang berhubungan dengan manusia sebagai anggota masyarakat, yang didalamnya terdapat nilai budaya :
a) Kemasyarakatan
b) Politik.
D. PENDEKATAN TRAITS
Pendekatan yang didasarkan pada trait juga berusaha mendeskripsikan kepribadian. Suatu trait adalah karakteristik individu yang sifatnya secara relatif tetap dan konsisten serta berada dari orang yang satu dengan yang lainnya. Teoritisi yang melakukan pendekatan ini salah satunya adalah Gordon W. Allport. Cattell telah melakukan berbagai penelitian untuk menemukan ciri-ciri dalam kepribadian manusia. Untuk memperoleh semua trait yang dipelajari Cattell menggunakan tiga sumber daya, yaitu: life record data (L-data); questionnaire data (Q-data), dan objective test data (OTdata) dan semua data tersebut kemudian dianalisis menggunakan metode statistik yang amat kompleks seperti analisis faktorial dan multivariat.
Semua data yang terkumpul disebutnya personality sphere yang terdiri dari berbagai Trait. Beberapa trait hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu. Trait seperti ini disebut source traits, membedakan antara individu yang satu dengan individu yang lainnya. Source traits tadi dalam perilaku sehari-hari tercermin dalam perilaku-perilaku yang nampaknya sama dengan orang-orang lain, ini yang disebut sebagai surface traits. Pada tahun 1936,Allport dan Odbert mendaftar 17.953 kata dalam bahasa Inggris yang digunakan untuk melukiskan perilaku manusia. Setelah dikurangi oleh kata-kata yang mempunyai arti tumpah tindih, tinggal 171 kata. Setiap kata dalam daftar ini dianggap dapat mewakili suatu trait. Kemudian Allport berusaha mengelompokkan trait itu ke dalam tiga kategori besar, yaitu:
(1). Cardinal traits
Ada traits yang amat dominan sehingga hampir semua perilaku manusia dapat ditelusuri kembali ke arah traits ini. Traits yang sangat luas cakupannya tetapi sangat berpengaruh ini disebut cardinal traits dan biasanya diberi istilah mengikuti nama dari seorang tokoh sejarah, seperti Christlike; Machiavellian; Nixonian, dan sebagainya.

(2). Central Traits
Kategori kedua adalah central traits, suatu ciri-ciri kepribadian yang cukup menonjol tetapi tidak seluas cardinal traitss. Itilah yang digunakan untuk melukiskan traits ini sarna dengan yang dipakai dalarn suatu surat rekomendasi yang baik atau yang dipakai seorang rater (orang yang dijadikan penilai) dalam menilai tingkah laku seseorang. Menurut Allport,jarang ada orang yang memiliki lebih dari 12 central traits.
(3). Secondary Traits
Kategori terakhir adalah secondary traits, ciri-ciri yang hanya berpengaruh pada situasisituasi yang amat terbatas, seperti: "senang coklat", "suka mobil", dan sebagainya.
Pada umumnya pendekatan tipologi trait dikritik karena secara metodologis diragukan reliabilitas pengambilan istilah-istilah yang dipakai untuk melukiskan trait. Selain itu pertanyaan filosofis muncul. Apakah kepribadian kita sarna dengan sejumlah trait yang kita miliki? Ada ahli yang mengajukan 5 traits, tetapi adajuga yang lebih dari 20.

E. TEORI PSIKODINAMIKA
Teori kepribadian yang bersifat psikodinamik berasal dari para ahli yang sangat dipengaruhi oleh Sigmund Freud (1856-1939), Bapak Psikoanalisis yang sangat terkenal. Teori psikologi Freud didasarkan atas keyakinannya bahwa dalam diri manusia terdapat suatu energi psikis yang sangat dinamis. Sebagaimana hukum konservasi energi, Freud juga beranggapan bahwa energi psikis bersifat kekal, tidak bisa dihilangkan, dan bila dihambat akan mencari saluran lain. Energi psikis inilah yang mendorong individu untuk bertingkah laku. Menurut psikoanalisis energi psikis itu berasumsi pada fungsi psikis yang berbeda, yaitu: Id, Ego, dan Superego.
ld merupakan bagian yang paling primitif dalam kepribadian. ld merupakan sumber energi utama yang memungkinkan manusia untuk bertahan hidup. Dari Id inilah nanti ego dan superego berkembang.ld terdiri dari dorongan-dorongan biologis dasar seperti kebutuhan untuk makan, minum, buang air besar, menghindari rasa sakit, dan memperoleh kenikmatan seksual. Freud juga beranggapan bahwa agresivitas merupakan suatu dorongan biologis, oleh karena itu ada dalam ld.
Semakin anak berkembang, proses kepribadian bukan merupakan sarana yang memuaskanuntuk memenuhi kebutuhan dan mengurangi tegangan. Dorongan untuk mendapat objek kebutuhan yang sebenamya makin kuat. Oleh karena itu, individu harus secara realistis berhubungan dengan lingkungan. la harus dapat membedakan objek imajiner dengan objek yang sebenamya dalam lingkungan. Kebutuhan ini menghasilkan suatu sumber energi psikis baru yang disebut ego.
Super ego adalah gambaran intemalisasi nilai dan moral masyarakat yang diajarkan orang tua dan orang lain pada anak. Pada dasamya super ego merupakan hati nurani (concience) seseorang. Superego menilai apakah suatu tindakan itu benar atau salah. Super ego mewakili nilai-nilai ideal. Oleh karena itu superego selalu berorientasi pada kesempumaan. Cita-cita diri- nyapun diarahkan pada nilai-nilai ideal itu sehingga setiap orang memiliki suatu gambaran tentang dirinya yang paling ideal (Ego ideal).

F. TEORI "SOCIAL-LEARNING"
Teori kepribadian yang mendasarkan pada sosial learning menekankan besarnya pengaruh dari lingkungan atau keadaan-keadaan situasional terhadap perilaku. Tokohnya Rotter, Dollard, Miller, danBandura. Para ahli ini berpandangan bahwa perilaku merupakan Hasi linteraksi yang terus menerus antara variabel-variabel pribadi dan lingkungan. Lingkungan membentuk pola-pola berperilaku melalui proses belajar; sedangkan variabel-variabel pribadi mempengaruhi pola-pola dalam lingkungan . Individu atau suatu pribadi dan situasi saling mempengaruhi.
Pola perilaku individu dibentuk berdasarkan suatu proses kondisioning. Orang-orang disekitar individu membentuk perilakunya dengan ganjaran dan hukuman. Bila ini terjadi, maka individu membentuk pola bertingkah laku melalui suatu pengalaman langsung (mendapat hadiah dan hukuman langsung). Tetapi perilaku juga bisa terbentuk melalui pengalaman tidak langsung, yaitu melalui pengamatan terhadap perilaku orang lain di sekitarnya atau disebut modelling.
Para teoritisi social learning beranggapan bahwa perilaku seseorang ditentukan oleh:
(a) ciri-ciri khusus dari situasi yang dihadapi;
(b) penafsiran individu terhadap situasi tersebut; dan
(c) penguatan yang pernah dialami pada tingkah lakunya dalam situasi serupa.
Faktor (b) mempunyai arti penting dalam teori ini.Penafsiranindividu sangatdipengaruhi oleh perkembangan kognitif seseorang serta pengalaman-pengalaman dimasa lalu dalam situasi yang serupa. Kedua hal ini dimasukkan dalam variabel-variabel pribadi (person variable).
Para teoritisi sosial learning mempunyai keyakinan mendalam bahwa organism adalah suatu subjek yang aktif. Oleh karena itu, ia tidak pernah membiarkan ligkungan mempengaruhi dirinya begitu saja. Ia juga merubah lingkungan itu sedemikian rupa sehingga pengaruh lingkunganyang ia terima merupakan pengalaman yang telah dipengaruhi oleh karya-karyanya. Para teoritisi menyebut lingkungan seperti itu sebagai self-generated environment. Karena teori social learning sangat menekankan pada determinan lingkungan atau kondisi-kondisi situasional dari perilaku, maka kritik yang dilontarkan adalah kepribadian sudah kehilangan pribadi (person)-nya. Bahkan teori ini member kesan kuat bahwa kepribadian itu mudah berubah karena sangat ditentukan oleh sikon yang dihadapi individu. Teori ini memang punya dampak kuat dalam psikoterapi, yaitu dengan berkembangnya teknik-teknik modifikasi perilaku, tetapi gagal untuk menjelaskanciri-ciri perilaku yang bersifat menetap.

G. TEORI BEHAVIORISTIK
Behaviorisme merupakan sebuah aliran dalam psikologi yang didirikan oleh J.B. Watson. Sama halnya dengan psikoanalisis, behaviorisme juga merupakan aliran yang revolusioner, kuat dan berpengaruh serta memiliki akar sejarah yang cukup dalam. Selain Watson ada beberapa orang yang dipandang sebagai tokoh behaviorsime, diantaranya adalah Ivan Pavlov, E.L. Thorndika, B.F. Skinner, dll. Namun demikian bila orang berbicara kepribadian atas dasar orientasi behevioristik maka nama yang senantiasa disebut adalah Skinner mengingat dia adalah tokoh behaviorisme yang paling produktif dalam mengemukakan gagasan dan penelitian, paling berpengaruh, serta paling berani dan tegas dalam menjawab tantangan dan kritik-kritik atas behaviorisme (Koeswara, 2001 : 69). Paradigma yang dipakai untuk membangun teori behavioristik adalah bahwa tingkah laku manusia itu fungsi stimulus, artinya determinan tingkah laku tidak berada di dalam diri manusia tetapi bearada di lingkungan (Alwisol, 2005 : 7). Pavlov, Skinner, dan Watson dalam berbagai eksperimen mencoba menunjukkan betapa besarnya pengaruh lingkungan terhadap tingkah laku. Semua tingkah laku termasuk tingkah laku yang tidak dikehendaki, menurut mereka, diperoleh melalui belajar dari lingkungan.


H. TEORI HUMANISTIK
Istilah psikologi humanistik (Humanistic Psychology) diperkenalkan oleh sekelompok ahli psikologi yang pada awal tahun 1960-an bekerja sama di bawah kepemimpinan Abraham Maslow dalam mencari alternatif dari dua teori yang sangat berpengaruh atas pemikiran intelektual dalam psikologi. Kedua teori yang dimaksud adalah psikoanalisis dan behaviorisme. Maslow menyebut psikologi humanistik sebagai “kekuatan ketiga” (a third force). Meskipun tokoh-tokoh psikologi humanistik memiliki pandangan yang berbeda-beda, tetapi mereka berpijak pada konsepsi fundamental yang sama mengenai manusia, yang berakar pada salah satu aliran filsafat modern, yaitu eksistensialisme. Manusia, menurut eksistensialisme adalah hal yang mengada-dalam dunia (being-in-the-world), dan menyadari penuh akan keberadaannya (Koeswara, 2001 : 113). Eksistensialisme menolak paham yang menempatkan manusia semata-mata sebagai hasil bawaan ataupun lingkungan. Sebaliknya, para filsuf eksistensialis percaya bahwa setiap individu memiliki kebebasan untuk memilih tindakan, menentukan sendiri nasib atau wujud dari keberadaannya, serta bertanggung jawab atas pilihan dan keberadaannya. menekankan pengalaman subjektif individu dan membahas proses kognitif dan perseptual. Aktualisasi diri dilihat sebagai kekuatan positif alami (innate) yang menggerakkan orang untuk mewujudkan potensi positifnya jika tidak diganggu oleh lingkungan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar